Saskara Net., Jakarta – Digitalisasi pendidikan di Indonesia perlahan mulai menunjukkan hasil yang dapat diukur. Salah satu indikatornya terlihat dari penggunaan Papan Interaktif Digital (PID) di ruang-ruang kelas yang kini dinilai mampu meningkatkan ketertarikan sekaligus pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
Berdasarkan evaluasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 98 persen siswa mengaku lebih mudah memahami pelajaran setelah proses belajar menggunakan Papan Interaktif Digital. Temuan tersebut merupakan hasil evaluasi yang dilakukan pada Februari–Maret 2026 dengan melibatkan lebih dari 241 ribu siswa, 182 ribu guru, serta 88 ribu kepala sekolah di berbagai daerah Indonesia.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari dalam konferensi pers Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Jakarta, pada Kamis (02/07/2026). mengatakan bahwa implementasi perangkat digital di sekolah tidak lagi sekadar menjadi program pengadaan teknologi, tetapi mulai menghadirkan perubahan nyata dalam proses belajar mengajar.
Selain meningkatkan pemahaman materi, hampir seluruh responden siswa, mencapai 99,5 persen, menilai pembelajaran menggunakan PID terasa lebih menarik dibandingkan metode konvensional. Angka ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu visual, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih partisipatif.
Perubahan juga dirasakan oleh para guru. Mayoritas pendidik mulai mengembangkan metode pembelajaran yang lebih interaktif, memanfaatkan berbagai media digital untuk mendorong siswa lebih aktif berdiskusi, bertanya, maupun berkolaborasi selama proses belajar berlangsung.
Meski demikian, digitalisasi pendidikan tidak berhenti pada penyediaan perangkat. Keberhasilan transformasi pembelajaran tetap bergantung pada kesiapan guru, kualitas materi digital, serta pemerataan akses teknologi, terutama bagi sekolah-sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pemerintah menyatakan akan melanjutkan penguatan ekosistem digital pendidikan melalui pembangunan infrastruktur pendukung, peningkatan kompetensi guru, serta pengembangan konten pembelajaran yang lebih relevan. Upaya tersebut diharapkan mampu memastikan bahwa transformasi digital benar-benar menjadi sarana untuk menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan berkualitas bagi seluruh anak Indonesia.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Nilai utamanya tetap terletak pada bagaimana ia dimanfaatkan untuk membangun ruang belajar yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis para siswa. (Saskara)



Komentar